SENDAWAR, Cakrawalakaltim.com — Menegaskan komitmen serius dalam menjaga warisan leluhur, Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar) kini berupaya mengintegrasikan ritual sakral Hendaq Pekayang ke dalam kalender pariwisata daerah. Tradisi masyarakat adat Bahau ini, yang baru-baru ini dilaksanakan di Kampung Muyut Aket, Kecamatan Tering, pada Selasa (14/10/2025), dipandang memiliki potensi ekonomi dan budaya yang belum tergarap maksimal.
Sekretaris Daerah Kutai Barat, Ayonius, menyatakan kegembiraannya atas tingginya partisipasi publik. Pelaksanaan Hendaq Pekayang tahun ini, yang melibatkan ribuan warga dari sepuluh kampung Bahau, dinilainya tidak sekadar mempererat tali persaudaraan, namun juga berfungsi sebagai katalisator ekonomi lokal melalui peningkatan aktivitas transaksi dan jual beli.
Untuk mengoptimalkan daya tariknya, Ayonius mendesak agar ritual tahunan ini ditransformasikan dari sekadar kegiatan adat menjadi agenda yang terencana dan terjadwal secara profesional. Ia menekankan pentingnya penetapan waktu pelaksanaan yang pasti. “Jika kita serius menjual pariwisata budaya, penetapan waktu yang pasti adalah kunci. Kegiatan seperti ini tidak boleh berubah-ubah agar dapat menarik wisatawan,” tegas Ayonius.
Sekda mengingatkan bahwa ketidakpastian jadwal dapat merusak reputasi daerah di mata pengunjung, mencontoh pengalaman promosi wisata arung jeram sebelumnya. Oleh karena itu, sinergi yang matang harus dibangun antara Dinas Pariwisata, para tokoh adat, dan komunitas lokal untuk mempersiapkan agenda budaya ini.
Lebih lanjut, Ayonius mendorong penguatan kerja sama erat dengan agen perjalanan wisata (*travel agent*) dan pelaku usaha. Tujuannya adalah memastikan bahwa dampak ekonomi dari produk kerajinan dan kegiatan budaya dapat terdistribusi langsung ke masyarakat di kampung-kampung. “Dengan menggandeng agen perjalanan, hasil karya masyarakat lokal juga bisa lebih dikenal luas,” imbuhnya.
### Mendorong Kepemilikan Budaya pada Generasi Muda
Selain aspek komersial, Ayonius menyoroti urgensi keterlibatan generasi muda Bahau dalam menjaga kesinambungan tradisi. Ia berharap kaum muda tidak hanya menjadi penonton, melainkan belajar dan meresapi filosofi yang mendasari setiap ritual adat seperti Hendaq Pekayang atau Hudoq.
“Jika mereka telah memahami dan menjiwai, pasti akan tumbuh rasa memiliki, dan keinginan untuk melestarikannya akan muncul secara alami,” jelas Ayonius, menekankan bahwa rasa bangga terhadap warisan leluhur dimulai dari pemahaman mendalam.
Di sisi lain, Hermanus Tingang, Ketua Pekat Huwang Bahau, menjelaskan bahwa Hendaq Pekayang adalah elemen integral dari tradisi Laliq Ugal, yakni pesta tanam padi yang melambangkan keharmonisan spiritual antara manusia dan alam. Ia memaparkan, ritual ini secara serentak dilakukan oleh sepuluh kampung Bahau setiap bulan Oktober, yang puncaknya adalah pertemuan besar untuk memperkuat tali persaudaraan.
Hermanus menambahkan bahwa tujuan utama dari penyelenggaraan ritual ini adalah transformasi nilai. Pelaksanaan tradisi ini menjadi sarana agar generasi penerus dapat melihat, merasakan, dan menghayati akar budaya mereka sendiri, sehingga pemahaman dan rasa memiliki terhadap warisan leluhur tetap terjaga. (AD/ADV-DISKOMINFOKUBAR)
![]()
