SENDAWAR, Cakrawalakaltim.com – Keberagaman yang berakar kuat dalam masyarakat secara resmi dideklarasikan sebagai kekuatan utama Kabupaten Kutai Barat (Kubar). Pernyataan ini disampaikan oleh Bupati Frederick Edwin dalam pidato puncak perayaan Festival Danau 2025 sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Kubar di Taman Budaya Sendawar, Rabu (5/11/2025), di hadapan ribuan warga yang memadati area tersebut.
Edwin menggarisbawahi bahwa tatanan sosial Kubar terbentuk dari koeksistensi damai berbagai komunitas. Ia secara spesifik menyoroti integrasi yang terjalin erat antara suku-suku asli—termasuk Dayak Benuaq, Tunjung, Bahau, Bentian, Kenyah, dan Aoheng—dengan komunitas pendatang dari berbagai penjuru nusantara, seperti Jawa, Bugis, Toraja, dan Batak.
“Masyarakat kita hidup berdampingan dalam kedamaian. Inilah wajah autentik Kutai Barat,” tegasnya, disambut tepuk tangan meriah dari hadirin yang hadir.
Bupati menekankan bahwa perbedaan etnis, bahasa, dan adat istiadat tidak lantas menjadi sumber perpecahan; sebaliknya, elemen-elemen ini berfungsi sebagai perekat harmoni sosial yang telah menjadi identitas dominan daerah selama lebih dari dua dekade. Filosofi ini terangkum jelas dalam tema HUT ke-26, yakni “Harmoni Kebersamaan dalam Budaya Sempekat.” Tema tersebut, menurutnya, mencerminkan semangat keterbukaan, saling menghormati, dan kuatnya persaudaraan lintas suku di kalangan penduduk.
Frederick melanjutkan dengan menekankan pentingnya pelestarian budaya. Demi menjamin keberlangsungan jati diri daerah di masa mendatang, nilai-nilai tradisional harus terus diperkuat. “Dengan menjaga budaya, kita sekaligus menjaga jati diri Kutai Barat,” ujarnya.
Apresiasi tinggi turut disampaikan kepada seluruh komunitas adat, seniman, dan tokoh masyarakat yang berperan aktif dalam menjamin kelestarian tradisi lokal. Edwin menilai bahwa kebersamaan yang terjalin kokoh di antara warga dari latar belakang berbeda merupakan modal sosial (social capital) yang tak ternilai harganya. Modal ini menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas dan mendorong kemajuan daerah.
“Selama kita mampu bersatu padu dalam semangat *Sempekat*, Kutai Barat akan selalu memiliki daya tahan untuk menghadapi tantangan zaman. Karena harmoni bukan sekadar hidup bersebelahan, melainkan saling menguatkan di setiap lini pembangunan,” pungkasnya menutup sambutan malam itu.
Puncak perayaan kemudian ditutup dengan pementasan kolaborasi spektakuler berupa tari dan musik etnik yang melibatkan representasi berbagai suku, menjadi simbol nyata dari keragaman yang hidup dan tumbuh subur di bumi Sendawar. (AD/ADV-DISKOMINFOKUBAR)
![]()
