​SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Budaya militerisme dan pendekatan keamanan dalam tata kelola ketenagakerjaan menjadi sorotan utama Perempuan Mahardhika Samarinda pada peringatan May Day, Jumat (1/5/2026).

Pendekatan represif ini dianggap telah merambah ke manajemen perusahaan dan mengintimidasi pekerja yang mencoba memperjuangkan haknya.
​Pihak Perempuan Mahardhika menegaskan bahwa budaya intimidatif ini sangat mengancam demokrasi dan menutup ruang bagi buruh perempuan untuk menuntut keadilan ekonomi.

​”Militerisme telah menjelma menjadi budaya intimidatif di ruang kerja. Kritik buruh perempuan dibungkam dan kebebasan berserikat dipersempit dengan pendekatan keamanan. Ini jelas mengancam demokrasi dan menutup ruang aman bagi perempuan untuk menuntut keadilan ekonomi,” tegas perwakilan organisasi tersebut.

​Kekhawatiran lain yang diangkat adalah masih masifnya kasus kekerasan berbasis gender di tempat kerja, mulai dari pelecehan seksual hingga ancaman pemecatan bagi buruh yang sedang hamil.

​Atas kondisi tersebut, mereka mendesak pemerintah untuk segera menghentikan sistem rekrutmen yang seksis dan menghapus segala bentuk kekerasan di dunia kerja. Mereka menyerukan agar seluruh perempuan pekerja bersatu melawan sistem yang menindas.

​”Perubahan tidak akan lahir dari belas kasihan penguasa atau perusahaan, melainkan dari keberanian kita untuk bersuara dan terorganisir. Perempuan bukan tenaga kerja murah dan bukan objek eksploitasi,” pungkas pernyataan sikap tersebut.(DHV)

Loading

By redaksi