SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Kepastian jaminan kesehatan bagi 49.742 warga kurang mampu di Kota Samarinda masih berada di persimpangan. Pemerintah Kota Samarinda hingga kini menunggu keputusan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terkait rencana pengalihan beban iuran BPJS Kesehatan yang dijadwalkan mulai berlaku 1 Mei 2026.

Jika kebijakan redistribusi itu tetap dijalankan, pembiayaan peserta BPJS segmen Penerima Bantuan Iuran (PBPU dan BP) berpotensi beralih ke anggaran pemerintah kota.

Menanggapi rencana tersebut, Wali Kota Samarinda Andi Harun telah mengirim surat keberatan bernomor 600.1/0970/011.02 kepada Pemprov Kaltim. Dalam surat itu, Pemkot menyatakan penolakan atas mekanisme redistribusi dan meminta penundaan hingga ada kejelasan hukum serta kesiapan keuangan daerah.

Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Neneng Chamelia Shanti, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima balasan resmi dari pemerintah provinsi atas surat yang telah disampaikan.

“Surat belum dibalas di sana, tetapi Wali Kota sudah berkomitmen apa pun yang terjadi untuk warga Samarinda. Namun, kita butuh kepastian dulu jawabannya seperti apa,” ujar Neneng.

Ia menegaskan, di tengah ketidakpastian skema pembiayaan, Pemkot Samarinda tetap menempatkan perlindungan layanan kesehatan masyarakat sebagai prioritas utama. Pemerintah kota, kata dia, tidak ingin warga menjadi korban tarik ulur kebijakan.

“Intinya Pemkot berkomitmen sama warga kota, apa pun yang terjadi kita selesaikan,” tegasnya.

Namun demikian, Neneng mengingatkan jika seluruh pembiayaan nantinya dibebankan ke APBD Kota Samarinda, maka diperlukan tahapan administrasi lanjutan seperti pergeseran maupun perubahan anggaran.

Menurutnya, proses tersebut membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan secara mendadak dalam waktu singkat.

“Kami berharap provinsi mempertimbangkan. Kita tidak ingin juga ada pelayanan yang tertunda,” tuturnya.

Saat ini, Pemkot Samarinda memilih menyiapkan berbagai skenario sambil terus menjalin koordinasi dengan perangkat daerah terkait guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.

“Kita tunggu saja dulu seperti apa. Mudah-mudahan akhirnya baik,” pungkasnya.(MYG)

Loading

By redaksi