SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Pemerintah Kota Samarinda menetapkan perpanjangan masa tanggap darurat bencana kekeringan selama dua pekan, berlaku mulai 8 hingga 21 September 2026. Keputusan ini diambil karena penanganan krisis air dan ancaman kebakaran di berbagai titik wilayah Samarinda masih memerlukan langkah intensif.

Keputusan resmi tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Samarinda Nomor 300.2.3/259/HK-KS/IX/2026. Dalam dokumen tersebut dicatat bahwa hingga per 7 September 2026, pemulihan kondisi lingkungan akibat kekeringan belum memadai.

Kekeringan saat ini memicu penurunan debit air yang serius, ditandai dengan mengeringnya sumur dangkal, terhentinya aliran di sebagian anak sungai, hingga penyusutan air di Waduk Benanga. Kondisi ini berimbas langsung pada terganggunya layanan air bersih untuk masyarakat.

Di tengah tingginya proyeksi kebutuhan air bersih, kapasitas armada tangki dan ketersediaan pengemudi Pemkot masih terbatas. Oleh sebab itu, perpanjangan status ini dibutuhkan untuk mempermudah pengerahan bantuan sumber daya dan peralatan tambahan.

Dampak kemarau juga merembet ke sektor pertanian, di mana para petani sayur mengalami gangguan mata pencaharian. Sementara itu, risiko karhutla tercatat masih tinggi dengan akumulasi kejadian mencapai lebih dari 152 kali dan melahap lahan seluas lebih dari 275,21 hektare.

Menanggapi keputusan perpanjangan status tersebut, Wali Kota Samarinda Andi Harun memastikan bahwa kebijakan ini tidak diikuti dengan penambahan alokasi dana baru.

“Untuk sementara anggaran kita masih cukup. Alokasi anggaran kemarin tidak wajib harus dihabiskan, sesuai yang kita butuhkan saja dan masih banyak sisanya,” kata Andi Harun.

Sebelumnya, Pemkot Samarinda telah menyiapkan alokasi dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar kurang lebih Rp2,5 miliar yang diperuntukkan bagi penanganan karhutla serta dampak kekeringan.
Menurut Andi Harun, penyerapan dana BTT tersebut dilakukan secara terukur sesuai dinamika di lapangan. Sebab, penyelesaian masalah di lapangan tidak selalu harus diselesaikan dengan pengeluaran anggaran semata.

Ia juga mengungkapkan bahwa langkah antisipasi telah disiapkan Pemkot Samarinda sejak jauh hari, tepatnya saat awal munculnya rilis informasi mengenai potensi El Nino. Skenario kesiapsiagaan langsung disusun sebagai pemetaan risiko kemarau panjang.

“Semua sisi sudah kita mitigasi sejak mendapat informasi adanya El Nino,” pungkasnya.(MYG)

Loading

By redaksi