SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Rencana pengoperasian Pasar Buah Samarinda dipastikan mundur dari target semula dan baru diproyeksikan aktif penuh pada 2027. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengambil langkah ini lantaran penyelesaian konstruksi fisik membutuhkan tambahan anggaran signifikan serta mempertimbangkan mepetnya sisa waktu pelaksanaan di tahun anggaran berjalan.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani, membeberkan bahwa penyempurnaan fasilitas lapak pedagang tersebut masih menyisakan kebutuhan dana sebesar Rp3 miliar lebih.
“Bangunan secara fisik memang belum selesai penuh. Kami mencoba hitung ulang kebutuhan minimum agar saat diaktifkan fungsinya sudah tuntas. Kebutuhan kekurangannya sudah kami laporkan ke Wali Kota, yakni di atas Rp3 miliar,” terang Nurrahmani, Senin (28/9/2026).
Nurrahmani menjelaskan, meski secara finansial alokasi dana tersebut memungkinkan disisipkan dalam APBD Perubahan, risikonya terlalu tinggi dari sisi durasi pekerjaan lapangan.
“Kalau di APBD Perubahan dari ketersediaan kas sebenarnya bisa, tapi waktunya sangat tidak memungkinkan untuk tuntas. Jadi pilihan yang lebih aman adalah dialokasikan di 2027,” tambahnya.
Pasar Buah Samarinda dirancang untuk menampung sekitar 69 lapak pedagang. Beberapa pekerjaan krusial yang masih menanti penyelesaian meliputi pemasangan keramik lantai, meja jualan, jaringan kelistrikan, hingga penataan area penunjang kawasan.
Sejalan dengan persiapan infrastruktur, Disdag Samarinda mulai mendata calon penghuni lapak bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Prioritas utama relokasi ditujukan bagi para pedagang buah yang selama ini berjualan menempati badan jalan publik, termasuk limpahan pedagang dari kawasan Pasar Pagi dan sentra jual beli lainnya.
Guna mendukung kemudahan transaksi, area pasar sengaja dirancang ramah aksesibilitas dengan konsep drive-thru tanpa pembatas pagar di area luar.
Selain itu, Disdag Samarinda mengusung konsep ramah lingkungan dalam pengelolaan operasional pasar dengan mengolah limbah organik secara mandiri.
“Kami ingin ada pengolahan limbah kulit buah menjadi eco-enzyme langsung di lokasi pasar. Hasilnya nanti bisa dimanfaatkan untuk pupuk cair dan disumbangkan ke Dinas Lingkungan Hidup, sehingga keberadaan pasar tidak justru menambah timbulan sampah baru di kota,” pungkas Nurrahmani.(MYG)
![]()
