SAMARINDA, Cakrawalakltim.com – Keberadaan lapak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Polder Air Hitam Samarinda mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Komisi II DPRD Kota Samarinda mencatat terjadi lonjakan jumlah pedagang hingga lebih dari tiga kali lipat dibanding pendataan awal.
Pada saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) pertama kali digelar, jumlah pedagang di area Polder Air Hitam terdata hanya berkisar antara 60 hingga 80 orang. Namun, dalam rentang waktu singkat, angka tersebut membengkak tajam mendekati 200 pedagang.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menyatakan kekhawatirannya atas kondisi penambahan pedagang yang tidak terkontrol ini. Menurutnya, jika tidak segera dibatasi dan diatur secara ketat, kawasan polder akan semakin semrawut dan kumuh.
“Kalau dari awal waktu kita RDP dulu kan hanya sekitar 60 sampai 80 pedagang. Sekarang katanya sudah hampir 200. Kalau didiamkan, ini bisa sampai 500 bahkan 1.000 pedagang. Nah, ini harus kita antisipasi di depan,” kata Iswandi.
Ia menambahkan, pembengkakan jumlah pedagang yang tidak terkendali berpotensi memicu berbagai masalah turunan di lapangan. Masalah mendesak yang kini mulai dikeluhkan pengunjung adalah kesulitan kantong parkir hingga kebersihan lingkungan yang tidak terkelola.
Selain itu, rencana pemkot untuk membangun tenan-tenan permanen dipastikan tidak akan mampu menampung seluruh pedagang yang ada saat ini. Keterbatasan anggaran dan luas lahan di polder menjadi kendala utama dalam memfasilitasi seluruh pelaku usaha.
“Jangan sampai nanti ini sama kasusnya kayak Pasar Pagi. Berapa yang didata, jumlah tenannya berapa, jumlah manusianya berapa, akhirnya ribut lagi. Kita antisipasi jangan sampai menunggu masalah besar muncul baru bergerak,” ungkapnya.
Guna mencegah kekacauan operasional, Komisi II meminta Satpol PP tetap melakukan pengawasan ketat terhadap kesepakatan jam operasional mulai pukul 15.00 hingga 23.00 WITA, serta menindak tegas pedagang baru yang nekat berjualan tanpa terdata di kelompok awal.(ADV/MYG)
![]()
