SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatatkan lonjakan partisipasi masyarakat yang cukup signifikan dalam pemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga memasuki bulan Juli tahun ini. Berdasarkan rekapitulasi data sekunder, program skrining kesehatan massal yang diinisiasi oleh pemerintah pusat tersebut telah berhasil menjaring puluhan ribu pendaftar dari berbagai kelompok usia di seluruh wilayah Kota Samarinda.
Layanan pemeriksaan yang tidak dipungut biaya sama sekali ini sengaja digulirkan sebagai langkah deteksi dini guna memetakan risiko penyakit tidak menular maupun menular di tingkat masyarakat. Dinkes Kota Samarinda memastikan seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama telah membuka posko pelayanan ini demi memperluas jangkauan promotif dan preventif secara berkelanjutan.
“Alhamdulillah kalau Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini karena merupakan salah satu program prioritas, kami dari Dinas Kesehatan Kota Samarinda sudah menjalankan dengan maksimal. Tercatat sampai dengan bulan Juli ini, jumlah warga yang mengakses layanan CKG kurang lebih sudah menyentuh di angka 28.000 jiwa untuk semua kategori usia,” kata Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismed Kusasih.
Ismed Kusasih menerangkan bahwa seluruh operasional pemeriksaan medis wajib mengacu pada petunjuk teknis yang ketat dan terintegrasi secara digital. Mekanisme pelaporan hasil skrining pasien di lapangan langsung terkoneksi dengan pusat data nasional guna memastikan akurasi capaian program jaminan kesehatan tersebut.
“Pelaksanaan CKG untuk sementara ini memang baru dijalankan oleh pihak Puskesmas, di mana ada 26 Puskesmas di Kota Samarinda yang aktif menjalankan. Karena ini merupakan program pusat, jadi kami sepenuhnya mengikuti aturan baku dari kementerian, termasuk kewajiban menginput seluruh progres pemeriksaan melalui aplikasi SatuSehat,” sambung Ismed Kusasih.
Meski angka partisipasi menyentuh puluhan ribu warga, Dinas Kesehatan Kota Samarinda tidak menampik adanya hambatan manajerial yang cukup berat di tingkat pelayanan dasar. Tingginya volume warga yang mengantre untuk diperiksa berbanding terbalik dengan ketersediaan jumlah personel medis yang bertugas di lapangan.
Kondisi penumpukan pasien ini memicu terjadinya beban kerja ganda bagi para tenaga kesehatan di Puskesmas, mengingat mereka tidak hanya dibebani oleh target capaian CKG melainkan juga harus tetap mengawal program pelayanan reguler serta program wajib nasional lainnya di lingkungan posyandu.
“Kalau ditanya mengenai hambatan di lapangan, sampai sekarang yang paling terasa adalah dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM). Kadang-kadang terjadi keterbatasan jumlah SDM karena tenaga kesehatan yang melakukan CKG ini adalah orang yang sama yang juga punya kewajiban pelayanan lain, seperti melayani pasien sakit harian, menjaga posyandu, hingga turun melakukan imunisasi,” papar Ismed Kusasih.
Di sisi lain, Ismed Kusasih memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh jajaran Puskesmas karena di tengah keterbatasan personel, rasio penyelesaian pemeriksaan medis di Kota Samarinda tetap mampu menyentuh angka di atas rata-rata target kelayakan program.
“Jika kita melihat persentasenya dari jumlah warga yang datang mendaftar untuk diperiksa, Alhamdulillah petugas kita di Puskesmas sudah bisa melaksanakan dan menyelesaikan pemeriksaan hingga 90 persen lebih. Jadi capaian kuantitas pemeriksaan kita sebenarnya berjalan sangat baik,” tambah Ismed Kusasih.
Guna mendukung kelancaran program ke depan, Dinas Kesehatan Kota Samarinda berkomitmen untuk terus menjamin ketersediaan Bahan Habis Pakai (BHP) medis seperti alat uji sampel darah dan gula darah di seluruh Puskesmas agar proses pemeriksaan tidak terhenti. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu mendatangi Puskesmas demi memanfaatkan program pemeriksaan gratis ini secara berkala.
“Sekarang yang paling penting adalah bantuan sosialisasi dari semua pihak agar warga mau berbondong-bondong memanfaatkan program CKG ini karena semuanya gratis tanpa dipungut biaya. Kita harus mengikis paradigma lama di mana masyarakat sering kali takut melakukan cek kesehatan karena khawatir mengetahui penyakitnya, padahal prinsip kedokteran itu jelas bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati,” pungkas Ismed Kusasih.(MYG)
![]()
