SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin, mengungkap sejumlah tantangan mendasar yang masih dihadapi sektor pendidikan daerah. Permasalahan tersebut meliputi kebutuhan tenaga pendidik yang belum terpenuhi, ketidakseimbangan fasilitas digital antar sekolah, serta penguatan tata kelola pendidikan yang lebih transparan. Pemaparan ini disampaikan dalam talk show Hari Guru Nasional 2025 di GOR Segiri, Jumat (21/11/25).

Dalam presentasinya, Asli menjelaskan bahwa Samarinda memiliki 742 satuan pendidikan dari jenjang TK hingga SMP. Jumlah itu terdiri atas 229 sekolah negeri dan 509 sekolah swasta dengan total peserta didik mencapai 129.221 siswa. Dari jumlah tersebut, 90.423 bersekolah di lembaga negeri, sedangkan 38.798 berada di sekolah swasta.

Sementara itu, jumlah tenaga pendidik ASN dan PPPK mencapai 4.479 orang. Ketika termasuk guru swasta, total guru di Samarinda berjumlah 7.622 orang. Namun data terbaru Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) menunjukkan masih ada kekurangan 382 guru yang harus segera dipenuhi.

“Kekurangan guru ini menjadi perhatian serius kami. Ke depan kami berharap ada arahan dari wali kota untuk memprioritaskan penempatan guru-guru yang telah lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG) agar sekolah tidak lagi kesulitan mendapatkan tenaga pendidik yang benar-benar berkualitas,” tuturnya.

Asli juga menyoroti kondisi digitalisasi sekolah yang masih belum merata. Dari total sekolah dasar dan menengah, baru 332 sekolah yang telah terdata mengikuti program digitalisasi. Namun berbagai kendala masih muncul, seperti sembilan sekolah (2,71 persen) belum memiliki akses internet aktif, lima sekolah (1,51 persen) belum memiliki komputer, 199 sekolah (59,94 persen) belum mempunyai Chromebook, dan sekitar 8 persen sekolah belum dilengkapi proyektor.

“Ini menjadi perhatian khusus karena Pak Wali Kota meminta data yang benar-benar valid dan terkini untuk program satu data. Perlu kami telusuri apakah sekolah yang belum terkoneksi internet itu berada di wilayah blank spot, terhalang bangunan, atau memang belum terjangkau sepenuhnya,” jelasnya.

Selain sarana, kompetensi digital para guru juga dianggap masih perlu diperkuat. Berdasarkan pemetaan Disdikbud, literasi digital guru pada level dasar berada di 52,71 persen, level menengah 73,49 persen, dan level mahir baru 42,77 persen.

“Era kita sudah era digital. Ini tantangan yang harus kita jawab bersama melalui pelatihan dan pendampingan berkelanjutan,” tegas Asli.(MYG)

Loading

By redaksi