SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda menyoroti pentingnya sinkronisasi program antara sektor pariwisata dan kebudayaan menyusul kebijakan penataan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan pemkot. Penggabungan rumpun instansi ini dinilai sebagai langkah taktis untuk memfokuskan pencapaian target Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sebagai kota yang berkarakter sebagai pusat niaga dan jasa, Samarinda memiliki tantangan tersendiri karena minimnya bentang alam wisata murni. Oleh karena itu, potensi seni dan budaya lokal harus dikemas secara kreatif agar mampu menjadi magnet penarik wisatawan luar daerah.
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Muhammad Novan Syahronny Pasie, menjelaskan bahwa salah satu ikon kebudayaan yang memiliki nilai jual tinggi adalah Desa Budaya Pampang. Pelaksanaan tradisi tahunan di kawasan tersebut dinilai sangat potensial jika dikelola secara profesional melalui kalender pariwisata yang terstruktur.
“Ya kan kita contoh begini ya, kita kan punya budaya di Kota Samarinda itu contoh misalnya adat ada budaya di Pampang. Itu kan memang dia setiap tahun pasti mengadakan acara adat, pesta. Nah itu kan masuk dalam rangkaian kebudayaan. Bagaimana kaitannya bukan hanya sekadar pelaksanaan kebudayaan tersebut, tapi juga menarik minat masyarakat dalam artian turis lah, agar mampu memberikan dampak signifikan terhadap khususnya pengenalan budaya Kota Pampang tersebut dan yang kedua juga ini juga berpotensi menambah Pendapatan Asli Daerah,” ujar Novan saat ditemui di Kantor DPRD Samarinda, Kamis (29/10/2026).
Kendati memiliki potensi besar, Novan mengingatkan bahwa mendatangkan wisatawan dalam jumlah banyak memerlukan kesiapan infrastruktur dan instrumen pendukung yang matang. Pemerintah kota bersama para pemangku kepentingan wajib membenahi sektor penunjang seperti aksesibilitas jalan, fasilitas penginapan yang memadai, hingga penataan kuliner khas lokal.
Tanpa adanya kesiapan instrumen pendukung yang terfokus, upaya promosi wisata dikhawatirkan tidak berjalan selaras dengan ekspektasi peningkatan ekonomi masyarakat.
“Tapi memang instrumennya harus benar-benar disiapkan. Yang pertama kalau kita memang menarik minat dari apa namanya wisatawan-wisatawan di luar Kota Samarinda, ya berarti kan akses, tempat penginapan, dan lain-lain. Belum lagi bicara kulinernya dan lain-lain. Nah ini kan sangat berkorelasi ya, dan ini yang kita sampaikan tadi harus benar-benar terfokuskan,” tambahnya.
Selain mengandalkan tradisi budaya, keberhasilan pengembangan destinasi wisata buatan di pusat kota seperti kawasan revitalisasi Citra Niaga dan Teras Samarinda juga harus diimbangi dengan kalender event pariwisata yang memiliki jadwal pasti dari jauh-jauh hari, meniru keberhasilan daerah tetangga dalam mengemas agenda festival tahunan.(ADV/MYG)
![]()
