SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Dampak sosiologis pascarenovasi skala besar Gedung Baru Pasar Pagi Samarinda kini menuai evaluasi serius dari jajaran legislatif. Perubahan struktur bangunan yang kini menjulang secara vertikal (bertingkat) dinilai menjadi salah satu tantangan berat yang memicu terjadinya penurunan animo kunjungan pelanggan secara drastis di lapangan.
Anggota DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, secara terbuka mengakui adanya fenomena perubahan perilaku belanja masyarakat tersebut. Berdasarkan analisis sosiologi pasar, konsep pembangunan sarana niaga tradisional secara vertikal memang memiliki risiko serta tantangan yang jauh lebih kompleks ketimbang konsep horizontal atau melebar.
“Memang pengalaman dari beberapa tempat, sebenarnya ada tantangan soal merehab atau merenovasi skala berat pasar. Dan biasanya kalau pasar itu direnovasi secara vertikal, memang ada potensi kecenderungan itu menurun kunjungan. Karena orang malas kerumitannya, malas naik dan segala macamlah, akhirnya mengurangi intensitas belanja,” ungkap Abdul Rohim.
Menurut Abdul Rohim, idealnya pasar tradisional dirancang dengan konsep horizontal demi menjamin kelancaran arus sirkulasi pengunjung dan kemudahan aksesibilitas ke setiap lapak pedagang. Namun, kondisi geografis serta keterbatasan lahan yang sangat sempit di kawasan pusat kota memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mengambil opsi membangun gedung ke atas.
Meskipun cetak biru desain awal gedung sudah sempat dipaparkan ke pihak legislatif sebelum proyek berjalan, dampak psikologis konsumen yang enggan naik ke lantai atas ternyata belum terantisipasi secara matang sejak awal perencanaan.
“Yang biasanya agak bagus itu adalah renovasinya itu horizontal. Jadi dia melebar memanjang, tidak ke atas. Ya tapi ini kan persoalannya Pasar Pagi berada di area yang cukup sempit,” jelasnya.
Mengingat infrastruktur gedung baru tersebut kini sudah berdiri kokoh di pusat kota, Abdul Rohim menegaskan bahwa saat ini bukan lagi waktunya untuk saling menyalahkan terkait pilihan desain masa lalu. Fokus utama yang dituntut pihak dewan saat ini adalah komitmen nyata dari Pemkot Samarinda untuk memulihkan kembali denyut nadi perekonomian para pedagang.
DPRD Samarinda mendesak instansi terkait segera melakukan kajian komprehensif dan meluncurkan berbagai stimulus serta program kreatif luar biasa guna menarik kembali minat beli masyarakat ke Pasar Pagi.
“Nah ini tinggal karena bangunan sudah jadi, bagaimana upaya Pemkot untuk melakukan langkah taktis agar tingkat kunjungannya bisa kembali seperti sebelumnya. Yang sekarang sangat perlu dilakukan pemerintah itu adalah melakukan kajian matang dan melakukan berbagai inovasi untuk bisa meningkatkan lagi kunjungan warga,” pungkas Abdul Rohim.(ADV/MYG)
![]()
