SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Samarinda mulai berdampak pada kualitas udara dan krisis air bersih. BPBD Kota Samarinda mencatat, akumulasi kejadian karhutla yang mencapai 176 titik memicu penurunan kualitas udara hingga kategori tidak sehat di beberapa wilayah.

Kepala BPBD Kota Samarinda, Suwarso, membeberkan bahwa berdasarkan analisa Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kualitas udara tidak sehat terpantau fluktuatif pada siang hingga sore hari, terutama di wilayah Samarinda Utara, Palaran, dan Sambutan.

“Kualitas udara tidak sehat terutama terjadi sekitar pukul 13.00 sampai 17.00 WITA di kawasan yang tingkat kebakaran lahannya tinggi. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar anak-anak sekolah, khususnya yang masuk siang, diwajibkan menggunakan masker,” kata Suwarso.

Guna memantau kondisi udara secara presisi, BPBD bekerja sama dengan Labkes Provinsi, Baristand, dan Balai K3 untuk memasang alat ukur kualitas udara portabel di tiga lokasi rawan, yakni Bantuas, Makroman, dan Betapus. Petugas juga mulai berkeliling membagikan masker kepada masyarakat terdampak.

Di samping masalah udara, ancaman kekeringan juga ditangani melalui pendorongan pasokan air bersih. Hingga kini, kolaborasi BPBD, PDAM, PMI, Damkar, TNI, dan instansi terkait telah mendistribusikan sebanyak 368.600 liter air bersih ke 75 titik lokasi, utamanya di Sambutan, Palaran, serta penambahan tandon umum di Bayur dan Lempake.

“Untuk mempercepat pemadaman lahan yang terbakar, satu unit helikopter waterbombing dari BNPB juga sudah disiagakan di Bandara APT Pranoto. Kami berharap proses eksekusi pemadaman dari udara ini bisa segera berjalan,” tutup Suwarso.(MYG)

Loading

By redaksi