SAMARINDA, Cakrawalakaltim.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda mempercepat proses penyaluran sisa calon siswa baru jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang sebelumnya masuk dalam daftar aduan masyarakat. Disdikbud melaporkan bahwa jumlah anak yang belum mendapatkan sekolah kini berkurang menjadi 16 orang, namun proses penempatan terkendala oleh sulitnya melacak kontak dan domisili para orang tua wali.

Langkah pencarian dan verifikasi ini terus dikejar oleh pihak dinas mengingat tahun ajaran baru kini telah memasuki tahapan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pemerintah Kota (Pemkot) menargetkan seluruh anak yang sempat terhambat dalam proses penerimaan jalur zonasi dapat segera didistribusikan ke sejumlah sekolah negeri yang masih menyisakan ruang kelas kosong.

“Kami sampaikan perkembangan terbaru bahwa dari 17 anak yang dilaporkan kemarin, saat ini jumlahnya sudah berkurang tinggal 16 murid lagi karena ada satu anak yang sudah melapor secara resmi dan langsung kami salurkan ke sekolah negeri,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP Disdikbud Kota Samarinda, Mohammad Wahiduddin, Selasa (14/7/2026).

Mohammad Wahiduddin mengungkapkan bahwa kendala terbesar yang dihadapi oleh tim pelayanan dinas di lapangan saat ini adalah ketidakaktifan atau hilangnya komunikasi dengan 16 orang tua wali murid tersebut. Situasi ini membuat dinas kesulitan memetakan sekolah terdekat yang sesuai dengan posisi geografis rumah tinggal calon siswa.

“Kami meminta kepada 16 orang tua murid yang tersisa ini untuk segera datang melapor ke kantor dinas karena saat ini kami agak kesulitan untuk melacak keberadaan mereka di lapangan. Kami membutuhkan kepastian data agar proses penyaluran ini dapat segera diselesaikan secara menyeluruh,” sambung Mohammad Wahiduddin.

Disdikbud menjamin bahwa ketersediaan daya tampung kuota bangku kosong di tingkat kota masih sangat mencukupi untuk menampung seluruh siswa yang belum terdaftar. Wahiduddin menekankan bahwa kunci utama penyelesaian masalah ini berada pada kesediaan para orang tua untuk menerima penempatan di sekolah negeri alternatif yang masih memiliki sisa kuota.

“Untuk kuota sekolah negeri sebenarnya masih sangat banyak dan tersebar di beberapa wilayah, asalkan anak yang bersangkutan memang mau dimasukkan ke sekolah yang masih kosong tersebut. Kami tentu akan melihat peta koordinatnya terlebih dahulu untuk disesuaikan dengan alamat rumah tinggal mereka,” jelas Wahiduddin.

Disdikbud menegaskan tidak akan menempatkan siswa secara asal-asalan ke sekolah yang letaknya terlampau jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka. Aspek kemudahan akses transportasi dan waktu tempuh harian anak tetap menjadi variabel utama yang dipertimbangkan secara matang oleh tim penyalur.

“Kami tentu memprioritaskan sekolah-sekolah yang posisinya paling dekat dengan rumah tinggal calon murid, jangan sampai anak yang tinggal di kawasan utara ditaruh di wilayah hilir yang jaraknya jauh sekali karena itu tidak manusiawi. Sekolah-sekolah di area pinggiran kota seperti kawasan Palam, Bangkal, Sungai Siring, hingga Guntung Manggis saat ini dilaporkan masih sepi peminat dan siap menampung sisa siswa ini,” pungkas Mohammad Wahiduddin.(MYG)

Loading

By redaksi